Pilih Laman
informasi daerah

Jelajah Batik di Maluku

 

Salah satu rumah produksi Batik di Maluku (foto: Ministry of Industry)

Variasi motif Batik motif  di Maluku (foto: theambonmaniseshop)

Tifa Totobuang, instrumen musik tradisional khas Maluku (foto: NegerikuIndonesia)

Memory Kejayaan Rempah Nusantara

Maluku dikenal luas sebagai penghasil rempah-rempah. Permintaan rempah-rempah yang tinggi pada abad ke-15 hingga ke-19 mendorong orang Portugis, Belanda, dan Inggris untuk mengendalikan perdagangan rempah-rempah. Tidak mengherankan bila cengkeh dan pala menjadi motif khas batik Maluku. Selain itu, motif mereka juga mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman budaya di Maluku.

Nilai Sosial Budaya Batik di Maluku

Motif batik Maluku secara umum dapat dikategorikan berdasarkan latar belakang sejarah dan budaya. Dikenal sebagai salah satu rute rempah-rempah kuno terbesar, kejayaan rempah-rempah telah tertanam sebagai memori kolektif masyarakat Maluku. Motif rempah-rempah menunjukkan identitas masyarakat Maluku. Para pengrajin lokal juga mengembangkan berbagai motif berdasarkan budaya lokal, misalnya motif parang salawaku dan motif tifa totobuang. Parang Salawaku adalah baju besi tradisional Maluku dan tifa totobuang adalah alat musik tradisional yang sering dimainkan oleh masyarakat setempat. Keduanya memiliki makna dan nilai-nilai penting bagi masyarakat Maluku, baik sebagai hadiah atau sebagai properti dalam upacara tradisional.

 

Sejarah Batik di Maluku

Sebagai penghasil rempah-rempah, Maluku mulai menarik perhatian global sejak abad ke-15. Pedagang Jawa, terutama dari Japara, memiliki peran penting untuk mengirimkan rempah-rempah dari Maluku ke Malaka. Mereka membawanya dan menjualnya di pasar yang menguntungkan di Malaka. Selama era modern awal (1500-an), pasar Malaka yang terkenal menjadi pasar sentral di Asia Tenggara dan pasar utama untuk perdagangan rempah-rempah. Portugis sadar dan mulai menangkap Malaka pada 1511. Mereka berhasil mengendalikan perdagangan rempah-rempah selama abad ke-16 dan Belanda datang untuk mengusir Portugis di awal abad ke-17. Dengan United East India Company, Belanda bisa mengendalikan perdagangan rempah selama berabad-abad. Keberadaan rempah-rempah, yang diperebutkan oleh penguasa asing, memberanikan Maluku untuk dikenal. Bahkan. Rempah-rempahnya telah menginspirasi penciptaan motif batik Maluku. hegemoni asing tidak benar-benar diterima dan menciptakan perlawanan sosial. Saat ini, memori kolektif tentang perang dicatat dalam batik Maluku dengan motif parang salawaku.

 

Motif Batik di Maluku

Kampung Batik di Maluku

workshop batik

Desa Batik adalah daerah di mana para produsen batik sebagian besar tinggal, membuka lokakarya, serta memamerkan produk-produk batik mereka. Anda dapat membeli tekstil batik dari pengrajin langsung dan berpartisipasi dalam proses pembuatan batik di situs tersebut.

Maluku

Video Visualisasi 

dalam 1 Menit

Produksi Batik di Maluku

Produksi Kain Tenun di Maluku

Pesona Simfoni Alam

Maluku

Pantai Ngurtafur di Pulau Kei, Maluku (foto: @Hafiedzuk23)

Tentang Maluku Province

 

Maluku memiliki 117 dialek dan bahasa yang berbeda. Maluku juga terkenal sebagai  daerah kelahiran tari senam massal yang fenomenal, yaitu Poco-poco. Tarian ini telah populer sejak tahun 2000-an. Pada awalnya, kesenian in dikenal sebagai gerakan senam di lingkungan militer sampai kemudian dikembangkan menjadi tarian flashmob yang dicintai oleh semua orang Indonesia. Lagu pengiring tarian ini juga berjudul “Poco-Poco” yang digubah oleh musisi Ambon bernama Arie Sapulette.

 

Fakta Tentang Maluku

Provinsi Maluku yang terletak di Wilayah Indonesia Timur. Berbatasan dengan Laut Seram di Utara, Laut Arafura di selatan. Provinsi Maluku terletak di antara dua pulau besar di Indonesia, yaitu Pulau Sulawesi di barat dan Pulau Papua di timur. Total wilayah Provinsi Maluku adalah 46.914,03 Km2 dengan total populasi 1,77 juta orang. Beberapa kelompok etnis di provinsi Maluku adalah suku Ambon, Lumoli, Nuaulu, Pelauw, dan Rana. Ibukota Provinsi Maluku adalah Kota Ambon. Populasi di daerah ini menganut Islam (50,61%), Kristen Protestan (41,40%) dan Katolik (6,76%).

Gunung Ganapus adalah gunung strato-vulkanik yang ikonik, terletak di Kepulauan Banda, Maluku (foto: Pesona Indonesia).

Sorotan Budaya

Pada abad ke-16, banyak daerah di provinsi Maluku adalah wilayah Kerajaan Tidore Ternate. Beberapa kerajaan yang muncul di wilayah itu adalah Kerajaan Tanah Hitu, Kerajaan Hua Mual di Pulau Seram, Kerajaan Iha di Pulau Saparua. Pada abad 16-17, kerajaan-kerajaan ini bersatu untuk mengusir penjajah barat seperti Portugis, Spanyol dan Belanda. Selain itu, Maluku juga dikenal dengan ritual tradisional Baku Pukul Manyapu Lidi atau Pukul Sapu Lidi. Ini adalah pertunjukan budaya ikonik yang ditunggu oleh wisatawan domestik dan asing. Pertunjukan seperti itu merupakan manifestasi dari perjuangan para leluhur, termasuk Kapitan Tulukabessy yang berjuang dengan gagah berani untuk mempertahankan tanah dan melarikan diri dari belenggu para penyerbu.

Warisan budaya takbenda lainnya yang dilestarikan oleh masyarakat setempat adalah Tifa Tanimbar Dance. Tarian tradisional ini dipertunjukkan dengan alat musik Tifa terutama selama ritual sakral dan upacara setempat (foto: Hendrikx Klise).

Peta Provinsi Maluku

Peta Maluku (foto: Big.go.id)

Peta Indonesia

Peta Indonesia (foto: Resourceful Indonesia)

Destinasi Pariwisata di Maluku